DAKWAH SUNNI

Waspadai Gerakan Wahabi

DZIKIR APA DAN YANG BAGAIMANA YANG DILARANG?

Posted by ulilamri pada 27/07/2009

APA YANG MEREKA LARANG?
YANG MANA YANG MEREKA KATAKAN BID’AH DHALALAH?

1. Apakah Dzikir?
2. Apakah Dzikir Berjama’ah Secara Nyaring??
3. Atau Dzikir Nyaring Secara Berjama’ah???

Firman Allah SWT:
      
Artinya : “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (Aku limpahkan rahmat dan ampunan), dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” [QS. Al-Baqarah: 152]
Berkata Syihabuddin Mahmud bin ‘Abdullah al-Husaini al-Alusiy dalam tafsirnya Ruhul Ma’aniy Fi Tafsir Al-Quranil ’Adhim Was Sab’il Matsaniy,
قال أهل الحقيقة : حقيقة ذكر الله تعالى أن ينسى كل شيء سواه
Artinya : Pakar ilmu hakikat berkata: “Hakikat dzikrullah itu adalah seseorang lupa pada sesuatu selain Allah.
Berkata Imam Qusyairiy dalam tafsirnya al-Qusyairiy, bahwa perintah memperbanyak dzikir itu artinya perintah untuk mencintai (mahabbah), karena tersebut dalam hadits;
من أحب شيئاً أكثر ذكره
Artinya : “Siapa yang mencintai sesuatu niscaya ia banyak menyebut sesuatu itu.”
Berkata Imam ‘Arif Billah Ahmad bin Muhammad bin ‘Ujaibah al-Husniy dalam tafsirnya Ibnu ‘Ujaibah, Ketahuilah bahwa dzikir itu terbagi kepada tiga bagian;
1. Dzikir dengan lidah saja: ini adalah dzikir orang yang lalai.
2. Dzikir dengan lidah dan hati: ini adalah zikir orang yang berjalan kepada Allah SWT.
3. Dzikir dengan hati saja: ini adalah dzikir orang yang telah sampai kepada Allah SWT.
Dzikir adalah sebagus-bagus amalan, hal ini ditunjuki oleh hadits-hadits Rasulullah dan ayat-ayat Quraniyyah. Dzikir merupakan jalan tercepat seseorang sampai kepada Allah SWT apabila pelaksanaannya atas petunjuk dan bimbingan guru yang sempurna.
Ketahuilah bahwa dzikir ada banyak ragam dan macamnya, diantaranya adalah;
Tahlil(لآإله إلاالله) , Takbir(ألله أكبر) , Tasbih (سبحان الله), Hamdalah (الحمد لله), Hasbalah (حسبي الله),
Hawqalah (لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم), dan shalawat kepada Rasulullah SAW.
Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad bin Ibrahim bin ‘Umar asy-Syaihiy dalam tafsirnya al-Khazin mengatakan bahwa dzikir itu adakalanya dengan lidah, yaitu seseorang bertasbih, bertahmid, bertamjid dan segala macam dzikir-dzikir lain yang seumpamanya. Adakalanya dengan hati, yaitu bahwa seseorang bertafakkur memikirkan keagungan Allah SWT serta dalil-dalil keesaanNya. Ada pula dzikir itu dengan anggota tubuh, yaitu bahwa ia menghabiskan waktunya dalam melakukan segala amalan yang diperintah seumpama shalat dan aneka macam kethaatan lainnya.
Abu ‘Abdullah Muhammmad bin ‘Umar bin Hasan bin Husain at-Taimiy ar-Raziy yang dikenal dengan gelar Fakhrur Raziy dalam tafsirnya Mafatihul Ghaib berkata; “Ketahuilah bahwa berdasarkan ayat 152 surat al-Baqarah tersebut Allah SWT menitikberatkan dua perkara kepada kita, yang pertama adalah Dzikir, yang kedua adalah Syukur. Adapun dzikir maka terkadang adalah ia dengan lidah, terkadang dengan hati dan terkadang dengan anggota tubuh.
Dzikir dengan lidah yaitu memuji Allah, bertasbih, bertamjid dan membaca kitab Allah.
Dzikir dengan hati terbagi kepada tiga bagian, yaitu;
1. Berpikir tentang dalil-dalil yang menunjuki adanya dzat Allah dan sifatNya, dan berpikir tentang jawaban untuk menolak syubhat yang datang pada dalil tersebut.
2. Berpikir terhadap dalil-dalil pada masalah ketentuan Allah, hukum-hukumNya, perintahNya, laranganNya, janjiNya akan balasan yang baik dan balasan terhadap keburukan. Apabila seseorang telah mengetahui bahwa dengan mengerjakan perintah maka ada balasan kebaikan dan pada meninggalkan perintah ada balasan keburukan maka mudahlah baginya untuk melakukan perintah.
3. Berpikir tentang rahasia-rahasia penciptaan Allah SWT,
Adapun dzikir dengan anggota tubuh yaitu melakukan segala perintah dan meninggalkan segala larangan. Allah SWT juga menamakan shalat itu sebagai suatu dzikir, sebagaimana pada surat al-Jum’at Allah SWT berfirman;فاسعوا إلى ذِكْرِ الله
Artinya : Maka bersegeralah kamu kepada dzikrullah (Shalat Jum’at)
Syeikh Samarqandiy dalam tafsirnya Bahrul ‘Ulum berkata; “Sebutlah Aku dengan ketha’atan niscaya Aku sebut kalian dengan keampunan. Allah SWT pasti ingat bagi siapa yang selalu ingat kepadaNya, maka siapa yang menyebut Allah dalam tha’atnya niscaya Allah menyebut orang tersebut dengan kebaikan, dan siapa yang dari golongan ahli maksiat dalam maksiatnya menyebut-nyebut Allah niscaya Allah menyebut orang tersebut dengan sebutan laknat.
Sebutlah Aku pada waktu bahagia niscaya Aku sebut (ingat) kalian pada waktu ditimpa malapetaka. Sebutlah Aku pada waktu susah niscaya Aku sebut (ingat) kepada kalian dengan memberikan jalan keluar dari kesusahan. Sebutlah Aku pada tempat yang sunyi niscaya Aku sebut kalian pada keramaian. Sebutlah Aku pada keramaian manusia niscaya Aku sebut kalian pada keramaian malaikat.
Dalam tafsir Bahrul ‘Ulum karya Syeikh Samarqandiy juga menjelaskan bahwa al-Faqih berkata; “Telah bercerita kepada kami oleh Muhammad bin Fadhli, telah bercerita kepada kami oleh Muhammad bin Ja’far, telah bercerita kepada kami oleh Ibrahim bin Yusuf, telah bercerita kepada kami oleh Muhammad bin Fadhli al-Dhabyi, dari al-Hushain dari Mujahid dari ‘Abdullah bin ‘Umar bin ‘Ash, bersabda Rasulullah SAW;
“ما اجتمع قوم يذكرون الله تعالى ، إلا ذكرهم الله في ملأ أعز منهم وأكرم ، وما تفرق قوم من مجلس لا يذكرون الله في مجلسهم ، إلا كانت حسرة عليهم يوم القيامة”
Artinya : “Tidaklah berhimpun suatu kaum yang menyebut-nyebut Allah (dzikrullah) kecuali Allah SWT menyebut mereka dalam kelompok yang lebih agung dan lebih mulia dari mereka. Tidaklah berpisah suatu kaum dari suatu majelis apapun yang tidak disebut Allah (dzikrullah) pada majelis mereka tersebut kecuali suatu kerugian bagi mereka pada hari kiamat.”
KOMENTAR DAN KESIMPULAN PENULIS
Bahwa tidak ada alasan bagi mereka melarang hamba Allah berdzikir yaitu mengingat dan menyebut Tuhannya. Dzikir bisa dengan hati saja, bisa dengan lidah saja, bisa dengan anggota saja, bisa dengan hati dan lidah, dan bisa dengan perpaduan hati, lidah dan anggota. Itu semua bergantung kepada pribadi dan kesanggupan masing-masing.
Yang tidak benar adalah “SUDAH TAK MAU BERDZIKIR LALU MELARANG PULA ORANG LAIN BERDZIKIR”. Mana dalilnya melarang orang berdzikir?.
Tanya : Kenapa berdzikir secara berjama’ah?
Jawab : Karena tidak ada ayat Allah dan hadits Rasulullah yang melarangnya. Bahkan kalau didasarkan kepada hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar bin ‘Ash diatas adalah berdzikir secara berjama’ah itu sangat bagus. Tidakkah mereka perhatikan ungkapan Rasulullah,
“ما اجتمع قوم يذكرون الله تعالى yang artinya “Tidaklah berhimpun suatu kaum yang menyebut-nyebut Allah (dzikrullah)”, bukankah ini menunjukkan kepada dzikir berjama’ah? Mereka bisa saja berdalih dengan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dzikir disitu adalah muzakarah atau semacam diskusi agama masalah halal haram, oke, itu bisa diterima, tapi darimana dipahami bahwa dzikir yang dimaksud harus bermakna muzakarah?
Tanya : Kenapa berdzikir secara nyaring? Bukankah itu bisa mengganggu orang lain termasuk orang yang sedang shalat,
Jawab : Kalau dengan suara dzikir ada orang yang terganggu maka orang tersebut harus ditinjau keimanannya. Karena Allah SWT berfirman;
            
Artinya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah (dzikrullah). Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah (dzikrullah) hati menjadi tenteram.
Berdasarkan ayat tersebut timbul satu tanda tanya, apa ada diantara orang yang beriman itu yang tidak tenang jiwanya dan merasa terganggu dengan dzikir? Padahal Allah menyatakan bahwa dengan dzikrullah hati itu menjadi tenteram.
Ada suatu analisa yang membuktikan bahwa seseorang itu bisa terganggu dengan suara-suara yang tidak disenanginya. Sebagai perbandingan dapat dicontohkan pada suara musik, orang yang tidak senang musik maka akan merasa terganggu bahkan tidak bisa tidur dengan suara musik walau volume suaranya sudah sangat rendah sekalipun, namun lain halnya bagi yang suka musik, mereka mengatakan bahwa musik dengan suara rendah itu tidak bersemangat, sehingga mereka membesarkan volume suara setinggi-tingginya bahkan sampai jantungnya goyang pun tak jadi problem, kenapa? Karena mereka suka musik. Bahkan yang mengantar tidur mereka bukanlah doa sebelum tidur tetapi mereka tertidur dalam alunan suara musik. Kita tidak menyamakan dzikir dengan musik, tapi ini hanya untuk menuju suatu kesimpulan bahwa HANYA MEREKA YANG BENCI DZIKIR YANG MERASA TERGANGGU DENGAN SUARA DZIKIR.
Menutup uraian ini cukuplah dengan menyajikan suatu hadits Rasulullah yang terdapat dalam kitab hadits SAHIH MUSLIM pada BAB DZIKIR, DOA, TAUBAT DAN ISTIGHFAR pada Pasal KEUTAMAAN MAJELIS DZIKIR. Penulis hanya menulis matannya saja tanpa menterjemahkan karena haditsnya yang panjang, penulis berharap kiranya pembaca dapat menterjemahkannya sendiri atau mau bertanya kepada yang mengerti jika merasa diri tidak mengetahui.
“حدثنا محمد بن حاتم بن ميمون حدثنا بهز حدثنا وهيب حدثنا سهيل عن أبيه عن أبي هريرةعن النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ قَالَ وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا لَا قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ قَالَ فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ.”
وبالله المستعان ولا حول ولا قوة إلا بالله.والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: