DAKWAH SUNNI

Waspadai Gerakan Wahabi

Penolakan Ulama Terhadap Albani

Posted by ulilamri pada 28/07/2009

Penolakan Ulama Terhadap Albani
Ikhwan, di kalangan ‘pendakwa salaf zaman khalaf’ nama Nashir bin Nuh al-Albani / Albani (penyokongnya menyebutnya sebagai Nashiruddin konon-kononnya dia sebagai “pembela agama”, tetapi yang nyata dibawanya ialah virus perpecahan ummat) dipandang tinggi sehingga dianggap sebagai seorang muhaddits ulung zaman ini, bahkan ada yang mensejajarkan kedudukannya dengan para imam ahli hadits terdahulu. Punya hebat promosinya sehingga orang ada yang terkeliru sehingga menjadikannya sebagai pemutus dalam persoalan ilmu hadis.
Sebenarnya keilmuan dan kepakaran Albani dalam bidang ilmu hadits dan lain-lain ilmu banyak dipertikaikan oleh ramai ulama dan muhadditsin. Ternyata Albani banyak mengeluarkan fatwa yang keliru dan bercelaru serta haru biru. Albani merasa dia telah layak untuk menyaring kitab-kitab hadits kepada shohih dan dhaif seperti yang dilakukannya kepada kitab-kitab sunan, bahkan Bukhari dan Muslim pun tidak terlepas dari kritikan Albani.
Alhamdulillah, fatwa-fatwa mengarut Albani telah dipertikaikan oleh banyak ulama dan mereka telah menulis berpuluh-puluh kitab untuk menjawab pendapat-pendapat Albani yang keliru. Antara ulama yang membuat penolakan kepada Albani adalah:-
1. Muhaddits besar India, Habibur Rahman al-’Adhzmi yang menulis “Albani Syudzudzuhu wa Akhtha-uhu” (Albani kesamarannya dan kesalahannya) dalam 4 jilid;
2. Dahhan Abu Salman yang menulis “al-Wahmu wath-Thakhlith ‘indal-Albani fil Bai’ bit Taqshit” (Keraguan dan kekeliruan Albani dalam jual beli secara ansuran);
3. Muhaddits besar Maghribi, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Irgham al-Mubtadi` ‘ala ghabi bi jawazit tawassul bin Nabi fil radd ‘ala al-Albani al-Wabi”; “al-Qawl al-Muqni` fil radd ‘ala al-Albani al-Mubtadi`”; “Itqaan as-Sun`a fi Tahqiq ma’na al-bid`a”;
4. Muhaddits Maghribi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Bayan Nakth an-Nakith al-Mu’tadi”;
5. Ulama Yaman, ‘Ali bin Muhammad bin Yahya al-’Alawi yang menulis “Hidayatul-Mutakhabbitin Naqd Muhammad Nasir al-Din”;
6. Muhaddits besar Syria, Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah yang menulis “Radd ‘ala Abatil wal iftira’at Nasir al-Albani wa shahibihi sabiqan Zuhayr al-Syawish wa mu’azirihima” (Penolakan terhadap kebatilan dan pemalsuan Nasir al-Albani dan dahulu sahabatnya Zuhayr al-Syawish serta penyokong-penyokong keduanya);
7. Muhaddits Syria, Syaikh Muhammad ‘Awwama yang menulis “Adab al-Ikhtilaf” dan “Atsar al-hadits asy-syarif fi ikhtilaf al-a-immat al-fuqaha”;
8. Muhaddits Mesir, Syaikh Mahmud Sa`id Mamduh yang menulis “Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani ‘ala Shahih Muslim” (Peringatan kepada Muslimin berhubung serangan al-Albani ke atas Shahih Muslim) dan “at-Ta’rif bil awham man farraqa as-Sunan ila shohih wad-dho`if” (Penjelasan terhadap kekeliruan orang yang memisahkan kitab-kitab sunan kepada shohih dan dho`if);
9. Muhaddits Arab Saudi, Syaikh Ismail bin Muhammad al-Ansari yang menulis “Ta`aqqubaat ‘ala silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a lil-Albani” (Kritikan atas buku al-Albani “Silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a”); “Tashih Sholat at-Tarawih ‘Isyriina rak`ataan war radd ‘ala al-Albani fi tadh`ifih” (Kesahihan sembahyang tarawih 20 rakaat dan penolakan terhadap al-Albani pada mendhaifkannya); “Ibahat at-tahalli bidz-dzahab al-muhallaq lin-nisa’ war radd ‘ala al-Albani fi tahrimih” (Keharusan perempuan berhias dengan emas berlingkar (gelang) dan penolakan terhadap al-Albani pada mengharamkannya); dan “Naqd ta’liqat al-Albani ‘ala Syarh at-Tahawi” (Sanggahan terhadap al-Albani atas ta’liqatnya pada Syarah at-Tahawi”;
10. Ulama Syria, Syaikh Badruddin Hasan Diaab yang menulis “Anwar al-Masabih ‘ala dhzulumatil Albani fi shalatit Tarawih”.
Ramai lagi ulama dan banyak lagi buku karangan mereka yang menjelaskan kesilapan, kekeliruan dan kekacauan pemikiran serta ilmu Albani. Malangnya buku-buku dan ulama-ulama yang menolak al-Albani kurang mendapat promosi kerana penajanya kurang berbanding dengan al-Albani. Contohnya buku Albani yang mendhaifkan sembahyang tarawih 20 rakaat boleh didapati di mana-mana dalam terjemahan bahasa melayu, sedangkan penolakannya amat payah didapati. Maka geng pemalas sembahyang tarawih 20 rakaat dengan egonya berhujjah dengan buku tersebut, sedangkan hujjah – hujjah yang ada didalamnya telah lumat dijawab oleh ulama lain tanpa diketahui mereka. Orang awam yang malas mencari, membisu 1000 bahasa, keliru dan ada yang termakan dakyah Albani and the gang.
Inilah yang berlaku sekarang, hatta di Malaysia puak-puak Wahhabi dan Syiah mendapat tajaan yang lumayan daripada penaja-penaja mereka. Contohnya sekolah-sekolah berbau salafi-wahhabi mendapat tajaan dan murid-murid yang ditaja mereka mendapat akses mudah ke universiti-universiti berorientasikan salafi-wahhabi walaupun murid tersebut alif besar batang kelapa pun tak kenal, bahasa ‘arab pun arap-arap. Tak apa, masuk ma’had dahulu di Saudi sebelum kuliyyah. Maka masuklah kawan ni ke ma’had, lepas ma’had baru kuliyyah, lepas kuliyyah balik kampung bid`ahkan orang kiri kanan dan ajar Tuhan ada kat langit. Ini berlaku kat kampung aku kepada salah seorang kawan ku sendiri. Aku juga ingat ada kawan dari Kelantan sewaktu temuduga untuk ke Universiti Madinah antara soalan yang ditanya ialah “Aina-Allah ?” (Di mana Allah ?). Allahu….. Allaaaah.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Siapa bertanya siapa menjawab?

Posted by ulilamri pada 27/07/2009

Siapa bertanya siapa menjawab?

Usiaku telah brp? masih banyakkah usiaku tersisa?
Mana lebih banyak ISTIGHFARku dari pada DOSAku?
Mana lebih banyak DZIKIRku dari pada OMONGANku?
Mana lebih banyak DUDUKku di TEMPAT IBADAH dari pada DUDUKku di WARUNG, RUMAH & TEMPAT LAIN.
Mana lebih banyak DUDUKku MEMBACA KORAN dari pada DUDUKku membaca QUR-AN.
Mana lebih banyak BELANJAku pada bekal hidup di DUNIA dari pada BELANJAku untuk bekal HIDUP AKHIRAT.
Apakah aku ragu pada kematian?
Ataukah aku ragu pada kiamat yang datang?
Andai sebentar lagi aku MATI apa yang telah aku SIAPKAN?
Pekerjaan yang aku lakukan kini memang SAH & HALAL, tapi APAKAH UNTUK INI AKU DICIPTAKAN DAN APAKAH UNTUK INI AKU DIPERINTAHKAN?
Bukan Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
(QS. Al-Bayyinah, Ayat 5)

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

RISALAH MANDI JANABAT

Posted by ulilamri pada 27/07/2009

ENAM SEBAB YANG MEWAJIBKAN MANDI:

1. Mati
2. Keluar Mani
3. Bertemu Dua Khitan
4. Haidh
5. Wiladah
6. Nifas

PENJELASAN POINT NOMOR 2 SAMPAI NOMOR 6:
 Sebab-sebab yang mewajibkan mandi dari nomor 2 sampai nomor 6 diistilahkan dengan JANABAT atau HADATS BESAR.
 Seseorang wajib mandi bila mendapatkan satu atau lebih dari sebab-sebab mewajibkan mandi diatas.
 Bila seorang perempuan yang bersetubuh dengan suaminya dan belum sempat ia mandi tiba-tiba haidhnya datang maka perempuan tersebut tidak perlu lagi mandi karena bersetubuh, tetapi ia mandi ketika haidhnya habis dengan sekali mandi saja dan dengan niat yang tersebut dibawah.
 Keluar mani mewajibkan mandi baik keluarnya secara haram atau halal, dikala tertidur atau terjaga, disengaja atau tidak. Mani yang keluar adalah mani dirinya bukan mani orang lain, yakni bukan mani suaminya.
 Bertemu Dua Khitan artinya bersetubuh, dari persetubuhan itu baik keluar mani atau tidak, baik berlapik atau tidak.
 Haidh adalah darah yang lumrah yang keluar dari setinggi-tinggi rahim orang perempuan kala sehat bukan karena sakit dan bukan karena melahirkan, sekurang-kurang masa keluarnya adalah 24 jam, sebanyak-banyak masa keluarnya adalah 360 jam.
 Wiladah artinya melahirkan. Seorang perempuan wajib mandi sebab melahirkan. Mandi wiladah tidak perlu dilakukan jika perempuan tersebut mengalami nifas. Jadi apa yang dipahami dan dilakukan masyarakat selama ini bahwa “seorang perempuan yang baru saja melahirkan diwajibkan mandi wiladah dulu, setelah itu baru mandi nifas” ini adalah pemahaman yang salah.
 Nifas adalah darah yang keluar dari rahim perempuan sesudah selesai melahirkan sebelum lewat 15 hari, sekurang-kurang masa keluarnya adalah secepat kedipan mata, sebanyak-banyak masa keluarnya adalah 60 hari. Bilamana nifas telah putus (tidak keluar lagi), apakah cuma 2 hari, 3, 10, 20, 30, 40, 44, 45 hari atau berapa pun saja maka perempuan tersebut wajib mandi dan shalat. Jadi, apa yang banyak terjadi dan dipahami masyarakat awam bahwa mereka tidak mandi karena belum genap 44 hari (atau dalam istilah mereka “GOHLOM TROEK UROE (Belum Sampai Hari)” adalah sebuah pemahaman yang sesat dan sangat keliru sekali.

NIAT MANDI WAJIB
نَوَيْتُ رَفْعَ الْحَدَثِ الأَكْبَرِ عَنْ جَمِيْعِ الْبَدَنِ فَرْضًا عَلَيَّ ِللهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku mengangkatkan hadats besar dari seluruh tubuhku wajib atasku karena Allah Ta’ala”.
PENJELASAN TENTANG NIAT MANDI
 Niat tersebut diatas bisa dipakai untuk segala sebab-sebab wajib mandi artinya bisa untuk mandi karena keluar mani, bersetubuh, haidh, wiladah dan nifas. Sekalipun sebab-sebab wajib mandi itu berbeda tetapi hakikat mandi itu satu jua yaitu mengangkat hukum yang menghalangi bolehnya mengerjakan shalat, sebab tujuan utama mandi hadats besar adalah untuk shalat.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Nabi Tidak Melakukan Semua Perkara Mubah

Posted by ulilamri pada 27/07/2009

Nabi Tidak Melakukan Semua Perkara Mubah
Apabila ada orang yang mengharamkan sesuatu dengan berdalih bahwa hal itu tidak pemah dilakukan Rasulullah SAW, maka sebenamya dia mendakwa sesuatu yang tidak ada dasar hukumnya. Oleh karena itu, dakwaannya tidak dapat diterima.
Demikian Abdullah ibn ash-Shiddiq al-Ghumari dalam “Itqanush Shunnah fi Tahqiqi Ma’nal-Bid’ah”. Lebih lanjut beliau mengatakan: ”Sangat bisa dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW tidak melakukan semua perbuatan mubah, dan bahkan perbuatan sunnah, karena kesibukannya dalam mengurus tugas-tugas besar yang telah memakan sebagian besar waktunya.
Tugas berat Nabi antara lain menyampaikan dakwah, melawan dan mendebat kaum musyrikin serta para ahli kitab, berjihad untuk menjaga cikal bakal Islam, mengadakan berbagai perdamaian, menjaga keamanan negeri, menegakkan hukum Allah, membebaskan para tawanan perang dari kaum muslimin, mengirimkan delegasi untuk menarik zakat dan mengajarkan ajaran Islam ke berbagai daerah dan lain sebagainya yang dibutuhkan saat itu untuk mendirikan sebuah negara Islam.
Oleh karena itu, Rasulullah hanya menerangkan hal-hal pokok saja dan sengaja meninggalkan sebagian perkara sunah lantaran takut memberatkan dan menyulitkan umatnya (ketika ingin mengikuti semua yang pernah dilakukan Rasulullah) jika beliau kerjakan.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW menganggap cukup dengan menyampaikan nash-nash Al-Qur’an yang bersifat umum dan mencakup semua jenis perbuatan yang ada di dalamnya sejak Islam lahir hingga hari kiamat. Misalnya ayat-ayat berikut:
وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللّهُ
“Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (Al-Baqarah [2]: 197)
مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
“Siapa yang melakukan amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat dari amal itu.” (QS. Al-An’am [6]: 160)
وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj [22]: 77)
وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْناً
“Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan, maka akan Kami tambahkan baginya kebaikan atas kebaikan itu.” (QS. Asy-Syura [42]: 23)
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ
“Siapa yang mengerjakan kebaikan walau seberat biji sawi, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah [99]: 7)
Banyak juga hadis-hadis senada. Maka siapa yang menganggap perbuatan baik sebagai perbuatan bid’ah tercela, sebenamya dia telah keliru dan secara tidak langsung bersikap sok berani di hadapan Allah dan Rasulnya dengan mencela apa yangtelah dipuji.
.
Dr. Oemar Abdallah Kemel
Ulama Mesir kelahiran Makkah al-Mukarromah
Dari karyanya “Kalimatun Hadi’ah fil Bid’ah” yang diterjemahkan oleh PP Lakpesdam NU dengan tajuk “Kenapa Takut Bid’ah?”
Wallahu a’lam.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

DZIKIR APA DAN YANG BAGAIMANA YANG DILARANG?

Posted by ulilamri pada 27/07/2009

APA YANG MEREKA LARANG?
YANG MANA YANG MEREKA KATAKAN BID’AH DHALALAH?

1. Apakah Dzikir?
2. Apakah Dzikir Berjama’ah Secara Nyaring??
3. Atau Dzikir Nyaring Secara Berjama’ah???

Firman Allah SWT:
      
Artinya : “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (Aku limpahkan rahmat dan ampunan), dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” [QS. Al-Baqarah: 152]
Berkata Syihabuddin Mahmud bin ‘Abdullah al-Husaini al-Alusiy dalam tafsirnya Ruhul Ma’aniy Fi Tafsir Al-Quranil ’Adhim Was Sab’il Matsaniy,
قال أهل الحقيقة : حقيقة ذكر الله تعالى أن ينسى كل شيء سواه
Artinya : Pakar ilmu hakikat berkata: “Hakikat dzikrullah itu adalah seseorang lupa pada sesuatu selain Allah.
Berkata Imam Qusyairiy dalam tafsirnya al-Qusyairiy, bahwa perintah memperbanyak dzikir itu artinya perintah untuk mencintai (mahabbah), karena tersebut dalam hadits;
من أحب شيئاً أكثر ذكره
Artinya : “Siapa yang mencintai sesuatu niscaya ia banyak menyebut sesuatu itu.”
Berkata Imam ‘Arif Billah Ahmad bin Muhammad bin ‘Ujaibah al-Husniy dalam tafsirnya Ibnu ‘Ujaibah, Ketahuilah bahwa dzikir itu terbagi kepada tiga bagian;
1. Dzikir dengan lidah saja: ini adalah dzikir orang yang lalai.
2. Dzikir dengan lidah dan hati: ini adalah zikir orang yang berjalan kepada Allah SWT.
3. Dzikir dengan hati saja: ini adalah dzikir orang yang telah sampai kepada Allah SWT.
Dzikir adalah sebagus-bagus amalan, hal ini ditunjuki oleh hadits-hadits Rasulullah dan ayat-ayat Quraniyyah. Dzikir merupakan jalan tercepat seseorang sampai kepada Allah SWT apabila pelaksanaannya atas petunjuk dan bimbingan guru yang sempurna.
Ketahuilah bahwa dzikir ada banyak ragam dan macamnya, diantaranya adalah;
Tahlil(لآإله إلاالله) , Takbir(ألله أكبر) , Tasbih (سبحان الله), Hamdalah (الحمد لله), Hasbalah (حسبي الله),
Hawqalah (لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم), dan shalawat kepada Rasulullah SAW.
Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad bin Ibrahim bin ‘Umar asy-Syaihiy dalam tafsirnya al-Khazin mengatakan bahwa dzikir itu adakalanya dengan lidah, yaitu seseorang bertasbih, bertahmid, bertamjid dan segala macam dzikir-dzikir lain yang seumpamanya. Adakalanya dengan hati, yaitu bahwa seseorang bertafakkur memikirkan keagungan Allah SWT serta dalil-dalil keesaanNya. Ada pula dzikir itu dengan anggota tubuh, yaitu bahwa ia menghabiskan waktunya dalam melakukan segala amalan yang diperintah seumpama shalat dan aneka macam kethaatan lainnya.
Abu ‘Abdullah Muhammmad bin ‘Umar bin Hasan bin Husain at-Taimiy ar-Raziy yang dikenal dengan gelar Fakhrur Raziy dalam tafsirnya Mafatihul Ghaib berkata; “Ketahuilah bahwa berdasarkan ayat 152 surat al-Baqarah tersebut Allah SWT menitikberatkan dua perkara kepada kita, yang pertama adalah Dzikir, yang kedua adalah Syukur. Adapun dzikir maka terkadang adalah ia dengan lidah, terkadang dengan hati dan terkadang dengan anggota tubuh.
Dzikir dengan lidah yaitu memuji Allah, bertasbih, bertamjid dan membaca kitab Allah.
Dzikir dengan hati terbagi kepada tiga bagian, yaitu;
1. Berpikir tentang dalil-dalil yang menunjuki adanya dzat Allah dan sifatNya, dan berpikir tentang jawaban untuk menolak syubhat yang datang pada dalil tersebut.
2. Berpikir terhadap dalil-dalil pada masalah ketentuan Allah, hukum-hukumNya, perintahNya, laranganNya, janjiNya akan balasan yang baik dan balasan terhadap keburukan. Apabila seseorang telah mengetahui bahwa dengan mengerjakan perintah maka ada balasan kebaikan dan pada meninggalkan perintah ada balasan keburukan maka mudahlah baginya untuk melakukan perintah.
3. Berpikir tentang rahasia-rahasia penciptaan Allah SWT,
Adapun dzikir dengan anggota tubuh yaitu melakukan segala perintah dan meninggalkan segala larangan. Allah SWT juga menamakan shalat itu sebagai suatu dzikir, sebagaimana pada surat al-Jum’at Allah SWT berfirman;فاسعوا إلى ذِكْرِ الله
Artinya : Maka bersegeralah kamu kepada dzikrullah (Shalat Jum’at)
Syeikh Samarqandiy dalam tafsirnya Bahrul ‘Ulum berkata; “Sebutlah Aku dengan ketha’atan niscaya Aku sebut kalian dengan keampunan. Allah SWT pasti ingat bagi siapa yang selalu ingat kepadaNya, maka siapa yang menyebut Allah dalam tha’atnya niscaya Allah menyebut orang tersebut dengan kebaikan, dan siapa yang dari golongan ahli maksiat dalam maksiatnya menyebut-nyebut Allah niscaya Allah menyebut orang tersebut dengan sebutan laknat.
Sebutlah Aku pada waktu bahagia niscaya Aku sebut (ingat) kalian pada waktu ditimpa malapetaka. Sebutlah Aku pada waktu susah niscaya Aku sebut (ingat) kepada kalian dengan memberikan jalan keluar dari kesusahan. Sebutlah Aku pada tempat yang sunyi niscaya Aku sebut kalian pada keramaian. Sebutlah Aku pada keramaian manusia niscaya Aku sebut kalian pada keramaian malaikat.
Dalam tafsir Bahrul ‘Ulum karya Syeikh Samarqandiy juga menjelaskan bahwa al-Faqih berkata; “Telah bercerita kepada kami oleh Muhammad bin Fadhli, telah bercerita kepada kami oleh Muhammad bin Ja’far, telah bercerita kepada kami oleh Ibrahim bin Yusuf, telah bercerita kepada kami oleh Muhammad bin Fadhli al-Dhabyi, dari al-Hushain dari Mujahid dari ‘Abdullah bin ‘Umar bin ‘Ash, bersabda Rasulullah SAW;
“ما اجتمع قوم يذكرون الله تعالى ، إلا ذكرهم الله في ملأ أعز منهم وأكرم ، وما تفرق قوم من مجلس لا يذكرون الله في مجلسهم ، إلا كانت حسرة عليهم يوم القيامة”
Artinya : “Tidaklah berhimpun suatu kaum yang menyebut-nyebut Allah (dzikrullah) kecuali Allah SWT menyebut mereka dalam kelompok yang lebih agung dan lebih mulia dari mereka. Tidaklah berpisah suatu kaum dari suatu majelis apapun yang tidak disebut Allah (dzikrullah) pada majelis mereka tersebut kecuali suatu kerugian bagi mereka pada hari kiamat.”
KOMENTAR DAN KESIMPULAN PENULIS
Bahwa tidak ada alasan bagi mereka melarang hamba Allah berdzikir yaitu mengingat dan menyebut Tuhannya. Dzikir bisa dengan hati saja, bisa dengan lidah saja, bisa dengan anggota saja, bisa dengan hati dan lidah, dan bisa dengan perpaduan hati, lidah dan anggota. Itu semua bergantung kepada pribadi dan kesanggupan masing-masing.
Yang tidak benar adalah “SUDAH TAK MAU BERDZIKIR LALU MELARANG PULA ORANG LAIN BERDZIKIR”. Mana dalilnya melarang orang berdzikir?.
Tanya : Kenapa berdzikir secara berjama’ah?
Jawab : Karena tidak ada ayat Allah dan hadits Rasulullah yang melarangnya. Bahkan kalau didasarkan kepada hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar bin ‘Ash diatas adalah berdzikir secara berjama’ah itu sangat bagus. Tidakkah mereka perhatikan ungkapan Rasulullah,
“ما اجتمع قوم يذكرون الله تعالى yang artinya “Tidaklah berhimpun suatu kaum yang menyebut-nyebut Allah (dzikrullah)”, bukankah ini menunjukkan kepada dzikir berjama’ah? Mereka bisa saja berdalih dengan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dzikir disitu adalah muzakarah atau semacam diskusi agama masalah halal haram, oke, itu bisa diterima, tapi darimana dipahami bahwa dzikir yang dimaksud harus bermakna muzakarah?
Tanya : Kenapa berdzikir secara nyaring? Bukankah itu bisa mengganggu orang lain termasuk orang yang sedang shalat,
Jawab : Kalau dengan suara dzikir ada orang yang terganggu maka orang tersebut harus ditinjau keimanannya. Karena Allah SWT berfirman;
            
Artinya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah (dzikrullah). Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah (dzikrullah) hati menjadi tenteram.
Berdasarkan ayat tersebut timbul satu tanda tanya, apa ada diantara orang yang beriman itu yang tidak tenang jiwanya dan merasa terganggu dengan dzikir? Padahal Allah menyatakan bahwa dengan dzikrullah hati itu menjadi tenteram.
Ada suatu analisa yang membuktikan bahwa seseorang itu bisa terganggu dengan suara-suara yang tidak disenanginya. Sebagai perbandingan dapat dicontohkan pada suara musik, orang yang tidak senang musik maka akan merasa terganggu bahkan tidak bisa tidur dengan suara musik walau volume suaranya sudah sangat rendah sekalipun, namun lain halnya bagi yang suka musik, mereka mengatakan bahwa musik dengan suara rendah itu tidak bersemangat, sehingga mereka membesarkan volume suara setinggi-tingginya bahkan sampai jantungnya goyang pun tak jadi problem, kenapa? Karena mereka suka musik. Bahkan yang mengantar tidur mereka bukanlah doa sebelum tidur tetapi mereka tertidur dalam alunan suara musik. Kita tidak menyamakan dzikir dengan musik, tapi ini hanya untuk menuju suatu kesimpulan bahwa HANYA MEREKA YANG BENCI DZIKIR YANG MERASA TERGANGGU DENGAN SUARA DZIKIR.
Menutup uraian ini cukuplah dengan menyajikan suatu hadits Rasulullah yang terdapat dalam kitab hadits SAHIH MUSLIM pada BAB DZIKIR, DOA, TAUBAT DAN ISTIGHFAR pada Pasal KEUTAMAAN MAJELIS DZIKIR. Penulis hanya menulis matannya saja tanpa menterjemahkan karena haditsnya yang panjang, penulis berharap kiranya pembaca dapat menterjemahkannya sendiri atau mau bertanya kepada yang mengerti jika merasa diri tidak mengetahui.
“حدثنا محمد بن حاتم بن ميمون حدثنا بهز حدثنا وهيب حدثنا سهيل عن أبيه عن أبي هريرةعن النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ قَالَ وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا لَا قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ قَالَ فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ.”
وبالله المستعان ولا حول ولا قوة إلا بالله.والله أعلم بالصواب

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »